HPLC Alias KCKT

Saya belajar HPLC alias KCKT itu kapan yaaa?? Semester 3 apa 4 kayaknya, which is itu sudah… alamak… long time ago.. Bahkan waktu belajar KCKT ini, mantan-mantan pacar saya masih SMA *eh malah curhat*

*kemudian pingsan*

Oke, refresh doeloe.

HPLC itu singkatan dari High Performance Liquid Chromatography atau P-nya bisa diganti dengan Pressure. Kalau rempong, maka istilah bahasa Indonesia sadja, dikenal sebagai Kromatografi Cair Kinerja Tinggi alias KCKT.

Kalau dari sisi peralatannya, bisa dibilang bahwa KCKT ini termasuk jenis kromatografi kolom karena ada fase diam yang diisikan. Tapi dari sisi pemisahannya, KCKT tergolong kromatografi adsorpsi/partisi *tergantung jenis kolom dan jenis analit*

Katanya sih, analisis dengan KCKT akan mendapatkan pemisahan yang baik dan prosesnya relatif singkat. Tapi sebelumnya harus dipertimbangkan:
– pemilihan pelarut yang sesuai untuk komponen yang hendak dipisahkan
– selain pelarut, kolom juga diperhatikan
– detektornya apalagi
– yang paling penting adalah…. pengetahuan.. hehehe…

Nah, output dari KCKT adalah kromatogram. Ini adalah hubungan waktu sebagai sumbu X dan hasil penanggapan detektor sebagai sumbu Y. X dan Y ala kartesian ya.. Sistemnya adalah memasukkan sampel yang akan berjalan di sepanjang kolom dengan bantuan fase gerak. Kromatogram akan memperlihatkan tanggapan detektor terhadap sampel yang lewat. Akhirnya akan terbentuk model kurva.

Ada beberapa faktor untuk mengetahui kualitas kromatogram.

1. Waktu Retensi

Ini adalah selang waktu yang diperlukan oleh si analit (yang dianalisa) mulai dari di-injek (bukan dinjek dari diinjak ya..) sampai keluar kolom dan sinyalnya ditangkap *hap hap hap* sama detektor. Ini ada dua nih. Waktu retensi analit yang ketahan dalam fase diam (kolom) itu disebut tR. Kalau waktu retensi pelarut pengembang itu namanya tM. Karena fase gerak akan nongol duluan, maka pastinya nilai tM selalu lebih kecil dari tR. Kan nongol duluan, jadi cepet waktunya. Nah, nah, nah.. waktu retensi analit dikurangi waktu retensi pelarut pengembang jadinya waktu rentensi terkoreksi.

2. Faktor Kapasitas

Ini adalah ciri khas analit pada kondisi tertentu yakni komposisi fase gerak, suhu, jenis kolom yang tertentu. Nilai faktor kapasitas yang baik itu 1-10, kalau kecil artinya peak-peak analit belum saling ngimpit dengan puncak fase gerak. Kalau nilianya besar, maka menunjukkan waktu pemisahannya kelamaan. Jaminan faktor ini sebenarnya pada peak-nya aja sih.

3. Jumlah plat teori

Teori kromatografi sebenarnya terkait pada lempeng atau plat-plat pemisahan. Nah, jumlah plat secara teoritis ini adalah banyaknya distribusi keseimbangan dinamis yang terjadi dalam 1 kolom. Kalau proses pemisahan, maunya sih N-nya besar, sehingga pemisahan lebih baik. Simpelnya nih, untuk kolom fase terbalik silika itu disebutkan punya 5000 pelat/meternya kalau dengan ukuran partikel 5 mm. Kalau 10 mm? Bisa 25000 pelat/meter.

4. HETP

Saya ingatnya malah HET. *halah* Jadi HETP ini adalah High Equivalent of Theoretical Plate alias Tinggi/Jarak Setara Plat Teori (TSPT/JSPT). Daripada rempong, maka sebut saja bunga, eh H. Ini maksudnya adalah panjang kolom (mm) yang diperlukan untuk terjadinya sekali keseimbangan distribusi dinamis molekul analit dalam fase gerak dan fase diam. Katanya H itu L per N. Jadi, panjangnya kolom per jumlah pelat.

5. Persamaan Van Deemter

Van Deemter bilang suatu persamaan antara HETP terhadap laju alir fase gerak (m). Jadi katanya:

H = A + B/m + C.m

6. Difusi Eddy

Walaupun Eddy sekarang jadi apoteker yang jualan ikan *salah fokus*, maka ada teori untuk menggambarkan perbedaan jalur aliran yang dilalui molekul analit yang terjadi di dalam kolom. Beda jalur aliran ini terjadi karena partikel fase diam punya ukuran dan bentuk yang berbeda. Si molekul analit ini bakal menempuh jarak yang berbeda dalam waktu tertentu walau melaju dengan kecepatan yang sama.

7. Tailing Factors

Kan namanya juga grafik kartesian, jadinya ya begitulah. Ingat saja kurva distribusi normal. Bakalnya ada ekornya cuy… Nah faktor inilah yang bikin tidak simetris. Hanya yang TF-nya =1 yang simetris dan ngganteng *javanese mode on*. Kalau TF > 1 maka itu disebut tailing, kalau sebaliknya fronting.

Begitu dulu… Namanya juga mengingat-ingat… Salam…

*daripada ini blog kosong.. hihihi…*

 

Tentang ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com
Pos ini dipublikasikan di Terminologi dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s